Tips Membangun Usaha dari 23 Pengusaha Muda Sukses

bagaimana menjadi pengusaha sukses

Seperti apa strategi sukses 23 pengusaha UKM beromset ratusan juta rupiah ini?


Apa yang anda bayangkan jika sebuah usaha yang terbilang kecil (UKM) tapi omsetnya sudah menyentuh ratusan juta perbulan dan puluhan juta per hari? Menggiurkan, bukan?

Semua pengusaha ingin seperti itu. Menariknya, pencapaian mereka hanya dalam hitungan 3-5 tahun berjalan. Tapi ironis.

Dalam acara Munas HIPMI (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia) di Surabaya, 7 November 2015, Bahlil Lahadalia menyayangkan minimnya jumlah pengusaha muda di Indonesia. Jumlahnya, menurut Bahlil, hanya 1,4 persen dari jumlah penduduk Indonesia yang berada di angka 250 juta jiwa. Lebih lanjut, ketua HIPMI tersebut menyarankan bahwa minimal harus ada 2 persennya. Bandingkan dengan Singapura yang mencapai 7 persen dan Malaysia 5 persen (Tempo, 8/11/2015)

Nah, ketimpangan yang terpaut jauh itulah yang coba dijawab oleh buku berjudul Indonesia Young Succesful Entrepreneur ini. Peluncurannya tepat karena hampir bersamaan dengan berlakunya MEA (Masyarakat Ekonomi Asean; Asean Economic Community) yang sudah start sejak Desember tahun lalu. Gencarnya program pemerintah dalam 'menjual' dan memolekkan Indonesia agar laku di mata para penanam modal asing menjadikan buku setebal 346 ini menemukan momentum tersendiri. Buku ini adalah bentuk sumbangsih nyata untuk memperkaya referensi bisnis/usaha, guna menggagas Indonesia menjadi negara yang perekonomiannya diperhitungkan di tingkat regional maupun level internasional sehitungan 5-10 tahun ke depan.

Mengulas profil dan kisah para pengusaha sukses dalam bidang usaha masing-masing, pembaca diajak untuk berkelana dalam berbagai pahit getir dan manis madu menjadi seorang pengusaha hingga akhirnya menuai sukses. Ada yang sejak kecil sudah dihadapkan pada kenyataan pahitnya hidup sehingga memaksa diri untuk bergerak, bergegas dan menjemput nasib. Ya, mereka adalah para penjemput nasib yang katalognya telah disediakan melimpah oleh Sang Pencipta nasib. Tinggal bagaimana manusia memilih katalog nasib tersebut. Tanpa adanya upaya bergerak dan menjemput mustahil akan ada perubahan, sebagaimana diisyaratkan dalam al-Quran, "Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sampai mereka mau mengubahnya sendiri." (QS. Ar-Ra'd: 11).

Yang menakjubkan, mereka yang menjadi profil di dalam buku ini semua masih tergolong muda. Bahkan, seorang pengusaha yang baru berusia 20 tahun sudah memegang kendali tiga perusahaan yang dibangunnya. Dialah Alzindani. Pemuda visioner dan ulet yang sudah menjabat komisaris di salah satu perusahaannya, termasuk bisnis rental atau penyewaan mobil premium seperti Mercedes-Benz dan Toyota Alphard yang ia beri nama Limozin. Bagaimana bisa usia semuda itu Alzin sudah mengundang decak kagum? Bagaimana pula saat usia 15 tahun atau masih bocah dia sudah mampu menggaet investor dan menggelontorkan rupiah sebesar 300 juta? (halaman 116).

Lain Alzindani, lain pula Reiner Rahardja. Pemuda tampan dan mapan ini juga sudah mampu mengendalikan tiga perusahaan yang dimilikinya. Dan di usianya yang baru 26 tahun saat itu dia sudah mampu menembus angka penjualan sebesar seperempat triliun. Berangkat dari kepeduliannya kepada sesama pengusaha muda, saat ini dia sedang menggalakkan sebuah kelas mentoring bisnis lewat bendera The Accelerator. Kelas eksklusif ini lahir dari kenyataan bahwa, menurutnya, sebanyak 50 persen pengusaha mengalami kegagalan di tahun pertama dan kedua, 30 persen pada tiga tahun berikutnya. Penyebabnya adalah kurangnya ilmu bisnis yang mereka miliki dan tidak adanya mentor yang membimbing maupun memberikan ilmu yang bisa langsung diterapkan. Apa rahasia dan strateginya? The Accelerator akan mengungkapnya dan gratis bagi yang terpilih (hal 38).

Itu adalah beberapa contoh untuk sekedar menyajikan deretan 23 pengusaha muda sukses yang menjadi bahasan dalam buku kumpulan biografi singkat ini. Dari apa yang mereka capai ada benang merah yang dapat dijadikan tali simpul. Bahwa mereka menjadi seperti saat ini tak lain adalah hasil dari 'akumulasi masa lalu' - istilah bos Trans Corporation, Chairul Tanjung. Pemuda visioner ini adalah - meminjam bahasa tukang lawak Tukul Arwana - hasil dari kritalisasi keringat sehingga mereka menjadi berlian mengkilap.

Bagi pemuda dan sedang geli(sah) untuk menjadi pengusaha serta ingin mengikuti jejak sukses mereka, buku ini wajib menjadi rujukan. Selain karena memotret kisah sukses bagaimana mereka membangun bisnis yang bergerak di level UKM namun omset ratusan juta, pun bidang usaha yang mereka geluti beragam. Mulai dari bidang kuliner, jasa, teknologi, kecantikan, hingga sport. Mereka ikut serta menjadi penggerak roda perekonomian di level mikro (kecil) dengan berperan sebagai pengemudi (driver), bukan terbuai dan mengantuk sebagai penumpang (passenger). Dengan kata lain, mereka adalah batu bata yang menjadi penguat kokohnya bangunan kedigdayaan perekonomian negara.

Salah satu bentuknya adalah bisnis angin. Ya, Adang Wijaya menjual angin. Tapi bukan kentut. Keberadaan pengisian angin ban di SPBU-SPBU Pertamina adalah persembahan usaha Adang dengan mengusung merek Green Nitrogen. Bagaimana dia bisa menembus perusahaan BUMN sekelas Pertamina untuk kemudian bekerjasama dan menabur outletnya di SPBU-SPBU? Di profil pertama Adang akan menyapa pembaca (hal. 3).

Bagi yang sudah menjadi pengusaha buku ini bisa menjadi pembanding sekaligus inspirasi dalam melihat potensi dan prospek bidang usaha yang sejenis. Cara-cara yang dibangun, strategi yang dijalankan serta bagaimana sistem pengelolaan usaha yang mereka terapkan akan menambah wawasan. Ada hingga 23 cara pandang dan pola pikir berbeda yang mewarnai 23 kisah di dalamnya.

Beragamnya gaya bahasa yang dipakai dalam menuturkan kisah masing-masing pengusaha menjadi akibat logis dari buku keroyokan. Satu penulis lugas dan bernas, penulis lainnya mendayu-dayu sehingga terasa bombastis melebihi isi yang sebenarnya ingin disampaikan. Tak pelak, ada kisah yang hampir mendekati karya fiktif jika anda tidak segera kembali sadar bahwa ini adalah biografi, dimana orangnya masih hidup dan nyata.

Namun, kelemahan bahasa di sini seolah sebagai penopang kebosanan dari gaya penyampaian. Saat digempur bahasa jurnalistik, berikutnya akan berganti dengan gaya yang lebih manis. Inilah gado-gado bahasa yang menyajikan banyak pilihan rasa yang coba disajikan oleh Mahmud Yunus, Rahardian Shandy dan Agus Prasetyo sebagai jurnalis tabloid Business Opportunity.

Terlepas dari sisi kebahasaan, buku ini memang terbilang kaya. Hal itu bisa dilihat dari jumlah profil pengusaha (23 orang) yang menjadi referensinya yang memang kaya-kaya. Dan satu-satunya yang menjadi ciri khas adalah semua terbilang muda. Tua, sukses, kaya, biasa. Muda, sukses, kaya, luar biasa. Selamat geli(sah) menjadi – calon – pengusaha muda.

Judul buku       : Indonesia Young Successful Entrepreneur
Penyusun         : Mahmud Yunus, Rahardian Shandy, Agus Prasetyo                       :
Penerbit           : Tabloid Business Opportunity, Jakarta
Cetakan           : November, 2015

Tebal               : X+346 halaman
Harga              : Rp. 65.000 s.d 73.000

Tidak ada komentar:

Posting Komentar