Resensi Buku Disruption Karya Rhenald Kasali

Rhenald Kasali sejauh penglihatan saya adalah generasi jaman old yang begitu up to date terhadap perubahan, terutama yang berkaitan dengan perkembangan teknologi yang menjadi ciri khas kids jaman now. Meskipun dia tidak bisa lagi dikatakan muda, namun produk pemikirannya terhadap “situasi muda" seolah melintasi waktu. Baik mengenai gejalanya, perkembangannya, maupun ramalan apa yang akan terjadi nanti. Saya jadi teringat pakar manajemen Amerika bernama Peter Drucker. Tak berlebihan jika Rhenald disandingkan dengannya.
Pemikirannya sebagai profesor bidang ekonomi UI sekaligus pelaku ekonomi menjadikan ulasan-ulasannya begitu tajam dan diminati banyak kalangan pengusaha, CEO, pejabat dan anak-anak muda yang tidak anti akan perubahan.
Buku Disruption (mengacaukan, mengganggu) ini adalah seri karya terbarunya di tahun 2017 disusul karya teranyar 'Tomorrow is Today' (Mizan Pustaka). Bidikan utama Disruption adalah membeber bagaimana perkembangan teknologi memporak porandakan perusahaan/usaha incumbent (lama) yang terlalu nyaman dan "sombong" dengan kedigdayaan brand-nya. Mereka sebagai gajah tidak sadar bahwa ada semut api yang diam-diam tak terlihat, datang dari berbagai arah dan siap menggerogoti, membuat sang gajah tumbang dan tergeletak lalu membusuk.
Pasukan semut tak terlihat yang menumbangkan gajah itulah yang disebut Rhenald sebagai Disruption (mengacau). Kecil tapi geraknya cepat dan membahayakan. Ditambah lagi tak terlihat. Mirip hantu. Contoh nyata disruption adalah kehadiran Go-jek dengan bisnis model sharing economy yang menggoyang bisnis transportasi di Indonesia. Angkot dan taksi konvensional gerah dengan kehadirannya. Awalnya dia kecil tapi semakin lama besar dan membuat kegaduhan di mana-mana. Terakhir, Go-jek justru meraih penghargaan internasional sebagai 50 perusahaan yang mengubah dunia versi Fortune karena mampu memberikan dampak sosial yang sangat besar.
Bagi generasi milenial (generasi yang lahir tahun 80-90-an), membangun bisnis bukan lagi dengan konsep memiliki. Mereka memang berbeda dengan generasi tua yang dibesarkan dalam peradaban 'memiliki'. Generasi muda sebaliknya. Dengan bisnis model sharing economy pun sebuah bisnis dapat dijalankan. Cukup serahkan pada robot (digital technology), lalu berkumpullah pemilik barang/jasa untuk membuka lapak dan berbagi hasil. Ironisnya, generasi muda dianggap sebagai predator harga. Ongkos taksi 150.000 ditawarkan 70.000. Kamar penginapan seharga 1.000.000 ditawarkan 200.000 (hal. 79-80). Mengejutkan, bukan?
Anda saksikan di berbagai media sosial yang mulai banyak berseliweran promosi barang dan jasa yang dimotori anak-anak muda. Mereka bermain di medan yang bersentuhan langsung dengan konsumen. Business to consumer memotong mata rantai distribusi, melintasi ruang dan waktu.
Go-jek, AirBnB, Uber, Bukalapak, Tokopedia, Traveloka menjadi pemain baru yang dimotori anak-anak muda dan memporak porandakan bisnis model yang selama ini dikuasai oleh incumbent (generasi tua). Mereka agresif, inovatif dan mengancam.
Disruption terjadi disebabkan, salah satunya, dari inovasi dan kecanggihan teknologi. Untuk saat ini internet menjadi raja (Internet of Things, IoT). Teknologi memberikan dua pilihan bagi siapa pun yang sedang hidup di eranya: melawan atau menyesuaikan. Jika melawan hampir bisa dipastikan akan tumbang atau paling tidak sakit. Jika menyesuaikan setidaknya akan selamat dari gilasan perputaran rodanya yang tak mengenal ampun.
Perusahaan-perusahaan, lembaga-lembaga, dan diri pribadi yang tidak merangkul pola pikir disruptive ini akan ketinggalan dan hanya menunggu waktu untuk tersungkur.
Inovasi dan efisiensi adalah ruh dari disruption. Ketika ada sebuah layanan yang memberikan dua hal tersebut maka di pasar akan terjadi shifting (pergeseran). Dari pinggir kanan geser ke kiri. Masyarakat sebagai pengguna akan melakukan migrasi ke dua hal ini karena merekalah sebagai raja pasar. Untuk apa bayar mahal kalau ada yang murah. buat apa repot kalau ada yang mudah. Apalagi jika mereka adalah kaum muda. Bersiaplah memenuhi kebutuhan mereka yang bermacam-macam.
Bentuk shifting (bergeser) ada berbagai pola. Anda yang dulunya belanja ke toko baju untuk keperluan sandang, sekarang hanya bermodal jari-jari bisa mengintip koleksi pakaian sebuah toko online kemudian memesannya. Itu juga dinamakan shifting. Anda yang dulu beli produk brand tertentu harus ke toko atau agen resminya langsung, sekarang tinggal memesan lewat toko online. Shifting juga. Membeli pulsa tidak perlu lagi ke konter isi ulang. Banyak aplikasi yang menyediakan dan bisa isi pulsa saat itu juga. Sama, itu juga shifting.
Pola shifting akibat dari disruption tentu saja menimbulkan kegalauan bagi generasi jaman old yang tidak bisa berdamai dengan perubahan. Cara-cara lama masih dipakai. Pola lama masih diterapkan. Padahal teknologi berlari begitu cepat dan tidak bisa menunggu. Akibatnya, tertinggal dan mati adalah pilihan yang tidak ada satu pun orang mau menerimanya.
Buku Disruption ini berkelas dan berbobot karena membahas tentang sesuatu yang sedang berlangsung di depan mata, lengkap dengan data-data otentik dan empiris. Meskipun kesalahan ketik mewarnai di dalamnya. Ibarat seorang juri ajang pencarian bakat American Idol dan America's Got Talent yang sedang mengomentari para talent mengenai performa mereka, kritiknya pedas. Langsung. Menonjok namun cenderung memberikan masukan-masukan untuk perbaikan. Pertanyaannya, mau apa tidak mendengarkan dan melakukan perbaikan setelahnya?
Sekilas sebagai tambahan, lembaga Rumah Perubahan yang didirikannya menjadi semacam laboratorium tempat membahas berbagai masalah yang tidak hanya berkaitan dengan perekonomian namun juga tentang tantangan manajemen ke depan. Mulai petinggi perusahaan, komisaris, presdir, pengusaha, guru, hingga mahasiswa menjadikannya tempat belajar. Tak heran, Rhenald dinobatkan sebagai Global Guru of Management oleh lembaga Global Gurus.
Bila Anda bergerak dalam suatu usaha, sedang bekerja di bidang yang akrab dengan dinamika perubahan, ingin mengetahui seluk-beluk perubahan akibat perkembangan inovasi dan teknologi, maka buku ini wajib jadi referensi. Halamannya juga lumayan tebal (500 halaman). Cocok untuk pegangan buku babon yang penuh dengan referensi dan analisa tajam. Ia akan membuka mata pikiran seolah sambil berbisik pada Anda, "Ini loh yang sedang berlangsung. Mau ikut atau tutup mata dan pura-pura tidak tahu?" Selamat datang di era Disruption!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar